MEMANG menjadi sesuatu yang wajar pka anak didik setelah ujian nasional (UN) mendapat media pembelajaran lanjutan. Pasalnya, di masa kekosongan \ ang cukup panjang antara UN dan seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMF1 \). mm\,i cenderung melupakan materi pelajaran.
Bimbingan belajar (bimbel) pun akhirnya jadi incaran di masa kekosongan itu. Tak lain, tujuannya guna menambah latihan-latihan soal agar saat menghadapi SNMPTN tidak lagi grogi; dan \ ang paling utama agar his.) menembus salah satu perguruan tinggi negeri (PIN) favorit
Permasalahan \ ang ada -j.u ini banyak bimbel-bimbel \ ang memberi janji-janji ketulusan dengan jaminan uang kembali apabila anak tidak berhasil lu-lusSNMPl \ Hal itu tentunya bukan lagi menjadi ranah pendidikan yang bermanfaat bagi siswa.
"Janji-janji intelektual yang tidak mendidik itu, seperti jaminan uang kembali, justru membuat orang tua terpaksa menguras biaya. Hal ini yang harusnya mendapat perhatian para orang tua agar tidak terjebak papar pakar pendidikan dan Universitas Negeri |akarta it \H \net Rachman di |a-karta, Selasa (3/5).
Senada dengann) ,v koordinator koalisi Pendidikan Lody Paat. mengkritisi fungsi bimbel yang justru menjadi tempat mencari soal bocoran. Padahal, sejatinya bimbel itu untukmembantu murid belajar, sehingga paham atas mata pelajaran yang sulit dikuasai
Karena fungsi yang salah itulah, akhirnya banyak biaya besar keluar dari orang tua untuk biaya bimbel. Me-(m\ ,1 uang untuk bimbel itu bisa dialokasikan untuk kursus \ ang sifatnya keterampilan kat.i i od\
Pemerintah sendiri tak berkutik dengan kehadiran bimbel itu dan hal-hal yang sifatnya kursus keterampilan justru terabaikan Direktur Pembinaan kursus dan Pelatihan Kementerian Pendidikan \.i sional Wartanto mengakui. lakunya bimbel di era pra-SN-MPI\ tersobul adalah imbas dari masih tidak meratanyakualifikasi pengajar. Terutama, guru-guru mata pelajaran yang dipandang sulit oleh peserta didik seperti, matematika, tisika. bahasa inggris, dan kimia.
Anak tidak percaya diri, orang tua cemas, guru dan kepala sekolah pun khan .Hir Faktor-faktor itu. j ang saling mendukung fenomena menja-mumya bimbel ini." jelas-tu .1
Dengan segala keterbatasan infrastruktur dan sumber dayamanusia itulah, yang lantas membuat guru dan orang tua membiarkan kehadiran bimbel agar tetap memberi manfaat bagi anak.
Namun, jelas Wartanto hen dakm a orang tua juga memper-siapkan anaknya dengan keterampilan yang dapat diperoleh dari kursus keterampilan seperti, kursus bahasa asing, memasak, elektronik, kecantikan, dan lain-lain.
"Ini yang mesti diperhatikan juga oleh orang tua atau guru. Jadi tidak semata-mata mengejar target SNMPTN," ungkap Wartanto
Hal itu. kata Koordinator Penyusunan Soal SNMPTN Suparno, mestinya biso dilakukan jika sekolah mengutamakan belajar mandiri. Dengan kata lain, alokasi uang untuk bimbel menjelang SNMPTN bisa disisihkan untuk kursus keterampilan karena sekolah sendiri sudah matang mempersiapkan siswanya menghadapi SNMPTN.
Kematangan mempersiapkan diri oleh sekolah, jelas Suparno, memang perlu karena bisnis bimbel semakin menggiurkan akibat belum terbentuknya pola kedewasaan siswa dalam menghadapi ujian. Jika sekolah matang menyiapkan siswanya untuk SNMPTN, SNMPTN cuma dianggap proses pendidikan biasa.
"Jadi, dengan belajar mandiri yang dipersiapkan sekolah, orang tua tak perlu lagi merogoh kocek guna membiayai mahal-mahal anaknya ikut bimbel menjelang SNMPTN. Uang itu bis,) dialokasikan buat kursus keterampilan," kata Suparno.
Ketua Umum Federasi Guru Independen Indonesia (FG1U Suparman pun sama halnya dengan pendapat Suparno. Menurutnya, bimbel hanya memberikan target jangka pendek dan sisi pedagogis.sistem belajar sis,i secara mandiri tetap yang terbaik dan harus didesain sekolah. Adapun uang yang mestinya untuk bimbel bisa dialokasikan untuk inemberi keterampilan tambahan bagi sisu a." tandas Suparman. CH-2)
sumber
http://bataviase.co.id/node/664675
Tidak ada komentar:
Posting Komentar