Sekolah dan bimbingan belajar (bimbel) adalah dua institusi yang tak terpisahkan dalam proses pendidikan. Keduanya mempunyai peran vital bagi perkembangan belajar siswa. Seorang siswa dituntut untuk berprestasi akademik yang hasilnya dapat diukur secara kuantitatif dalam ulangan harian, ujian tengah semester (UTS), ujian akhir semester (UAS), dan ujian nasional (UN). Khusus untuk siswa kelas 9 dan 12, harapan mereka tidak hanya mendapat nilai baik dalam ujian-ujian itu, tetapi juga mendapat sekolah unggulan untuk jenjang pendidikan selanjutnya. Hubungan sinergis antara sekolah dan bimbel mutlak diperlukan. Sebuah sekolah dengan puluhan atau ratusan siswanya harus dibimbing agar mereka dapat meraih prestasi akademik. Apalagi dengan makin tingginya standar kelulusan yang ditetapkan pemerintah dan persaingan ketat untuk masuk sekolah unggulan, siswa diharapkan meraih prestasi maksimal.
Pola hubungan yang dapat dijalin antara keduanya dapat dilakukan pada berbagai hal. Yang pertama adalah pendalaman materi pelajaran. Dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah, guru mengajarkan konsep-konsep dasar, teori, serta latihan soal kepada siswa. Melalui latihan-latihan soal inilah, bimbel dapat berperan untuk mendalami kembali materi-materi yang diajarkan guru di sekolah. Bimbel harus mempunyai semacam bank soal. Dengan intensifnya latihan-latihan soal dari bimbel, siswa diharapkan dapat mengaplikasi apa yang diajarkan oleh guru di sekolah untuk menjawab pertanyaan yang diajukan dalam soal.
Hubungan sinergis yang kedua adalah konsultasi pelajaran. Siswa terkadang malu atau bahkan takut untuk bertanya lebih jauh dalam KBM di sekolah. Untuk mengatasi hal itu, siswa harus bertanya kepada gurunya di luar kelas. Pada diri sebagian siswa, kadang muncul kendala psikologis untuk bertanya lebih lanjut. Guru bimbel dapat mengisi peran konsultan pelajaran. Dengan penjelasan yang berbeda, tetapi tetap mengarah pada tujuan materi yang sama, siswa dapat lebih memahami materi yang didapatnya dari sekolah.
Selain proses pemahaman dan pendalaman materi, siswa juga harus diukur kemampuannya melalui kuis atau ulangan harian di sekolah. Hasil ulangan atau kuis itulah yang menjadi panduan guru sekolah untuk mengetahui kemajuan belajar siswa. Pengujian berkala ini dapat juga dilakukan oleh bimbel yang biasa dinamakan dengan try out. Siswa dapat membandingkan hasil try out di bimbel dengan nilai-nilai ujian di sekolah. Guru bimbel harus bisa menjelaskan dan menafsirkan hasil try out kepada siswa dengan baik sehingga siswa tidak terlampau jatuh mentalnya atau terlalu percaya diri dengan nilai yang didapat.
Siswa kelas IX dan XII tidak hanya membutuhkan materi pelajaran, tetapi juga informas-informasi yang berkaitan dengan pendidikan yang akan ditempuhnya setelah lulus. Siswa kelas 9 membutuhkan informasi tentang sekolah-sekolah yang akan ia tempuh nanti, apakah SMA atau SMK. Permasalahan siswa kelas 12 lebih kompleks lagi. Mereka dihadapkan pada banyak pilihan pendidikan pasca-SMA. Banyaknya jurusan dan kampus membuat mereka membutuhkan informasi yang lengkap. Di sekolah, dengan latar pendidikan konselingnya, seorang guru bimbingan dan konseling (BK) dapat menjadi ujung tombak pemberi informasi siswa. Tidak hanya itu, guru-guru yang lain pun dapat membagi sarannya kepada siswa. Peran ini juga dapat dimainkan oleh guru-guru bimbel. Guru bimbel kebanyakan memiliki latar belakang heterogen dan tidak hanya berasal dari kampus dan jurusan keguruan. Mereka datang dari berbagai perguruan tinggi negeri (PTN) dan jurusan. Selain itu, mereka kebanyakan berasal dari alumni SMA-SMA unggulan dari daerah masing-masing. Seorang siswa kelas XII dapat bertanya tentang, misalnya, perkuliahan di jurusan Teknik Metalurgi UI karena guru bimbelnya kuliah atau alumni jurusan tersebut. Begitu pula dengan siswa kelas IX. Mereka dapat bertanya tentang, misalnya, lingkungan dan pembelajaran di suatu SMA unggulan karena guru bimbelnya adalah alumni sekolah tersebut dengan tahun kelulusan yang belum terlalu jauh dengan mereka sehingga kondisinya dapat lebih mudah dibandingkan.
Hubungan sinergis yang terakhir adalah bimbingan psikologis bagi siswa. Seorang siswa yang sedang mempunyai masalah nonakademis tentu harus segera menyelesaikannya. Jika dibiarkan berlarut-larut, hal itu dapat mengganggu siswa tersebut untuk mencapai prestasi tinggi. Peran ini sangat vital dijalankan oleh guru BK sebagai tempat curhat siswa. Selain itu, wali kelas juga harus mengambil peran ini karena dialah ibu atau bapak yang secara langsung bertanggung jawab terhadap seorang siswa di sekolah. Peran tempat curhat ini dapat dimainkan juga oleh guru bimbel. Faktor usia yang tidak terlalu jauh antara guru bimbel dan siswa dapat membuat komunikasi lebih lancar. Selain ajang curhat, siswa yang tidak mengalami masalah pun juga harus mendapat bimbingan psikologis melalui peningkatan motivasi belajar. Kata-kata motivasi atau acara-acara khusus peningkatan motivasi siswa dapat dirancang oleh bimbel bekerja sama dengan sekolah atau mengadakan sendiri.
Dari keempat hubungan sinergis tersebut, sekolah dan bimbel memiliki peran masing-masing yang dapat dimaksimalkan untuk menggali potensi akademik siswa. Sekolah, baik negeri maupun swasta sebagai institusi formal dan harus melalui akreditasi, tentu harus lebih maksimal menjalankan empat fungsi di atas. Lain halnya dengan bimbel, sebagai lembaga nonformal, tidak semua bimbel dapat menjalani peran di atas. Bimbel-bimbel yang tidak dapat menjalani peran di atas dengan sendirinya akan tegusur dalam percaturan dunia pendidikan. Jika keduanya telah menjalankan fungsi-fungsi itu dengan baik dan menjalani hubungan sinergis, siswa tidak akan merasa terbebani dengan banyaknya tuntutan yang ada dalam kurikulum karena segala sesuatunya telah dirancang dan disiapkan dengan baik. Dengan demikian, sekolah dan bimbel telah memberikan kontribusi positif bagi cita-cita pendidikan nasional.
sumber :
http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/12/menjalin-hubungan-sinergis-antara-sekolah-dan-bimbel-dalam-mencerdaskan-anak-bangsa/
Minggu, 25 September 2011
Sekolah Mesti Mendesain Sistem Belajar Mandiri
MEMANG menjadi sesuatu yang wajar pka anak didik setelah ujian nasional (UN) mendapat media pembelajaran lanjutan. Pasalnya, di masa kekosongan \ ang cukup panjang antara UN dan seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMF1 \). mm\,i cenderung melupakan materi pelajaran.
Bimbingan belajar (bimbel) pun akhirnya jadi incaran di masa kekosongan itu. Tak lain, tujuannya guna menambah latihan-latihan soal agar saat menghadapi SNMPTN tidak lagi grogi; dan \ ang paling utama agar his.) menembus salah satu perguruan tinggi negeri (PIN) favorit
Permasalahan \ ang ada -j.u ini banyak bimbel-bimbel \ ang memberi janji-janji ketulusan dengan jaminan uang kembali apabila anak tidak berhasil lu-lusSNMPl \ Hal itu tentunya bukan lagi menjadi ranah pendidikan yang bermanfaat bagi siswa.
"Janji-janji intelektual yang tidak mendidik itu, seperti jaminan uang kembali, justru membuat orang tua terpaksa menguras biaya. Hal ini yang harusnya mendapat perhatian para orang tua agar tidak terjebak papar pakar pendidikan dan Universitas Negeri |akarta it \H \net Rachman di |a-karta, Selasa (3/5).
Senada dengann) ,v koordinator koalisi Pendidikan Lody Paat. mengkritisi fungsi bimbel yang justru menjadi tempat mencari soal bocoran. Padahal, sejatinya bimbel itu untukmembantu murid belajar, sehingga paham atas mata pelajaran yang sulit dikuasai
Karena fungsi yang salah itulah, akhirnya banyak biaya besar keluar dari orang tua untuk biaya bimbel. Me-(m\ ,1 uang untuk bimbel itu bisa dialokasikan untuk kursus \ ang sifatnya keterampilan kat.i i od\
Pemerintah sendiri tak berkutik dengan kehadiran bimbel itu dan hal-hal yang sifatnya kursus keterampilan justru terabaikan Direktur Pembinaan kursus dan Pelatihan Kementerian Pendidikan \.i sional Wartanto mengakui. lakunya bimbel di era pra-SN-MPI\ tersobul adalah imbas dari masih tidak meratanyakualifikasi pengajar. Terutama, guru-guru mata pelajaran yang dipandang sulit oleh peserta didik seperti, matematika, tisika. bahasa inggris, dan kimia.
Anak tidak percaya diri, orang tua cemas, guru dan kepala sekolah pun khan .Hir Faktor-faktor itu. j ang saling mendukung fenomena menja-mumya bimbel ini." jelas-tu .1
Dengan segala keterbatasan infrastruktur dan sumber dayamanusia itulah, yang lantas membuat guru dan orang tua membiarkan kehadiran bimbel agar tetap memberi manfaat bagi anak.
Namun, jelas Wartanto hen dakm a orang tua juga memper-siapkan anaknya dengan keterampilan yang dapat diperoleh dari kursus keterampilan seperti, kursus bahasa asing, memasak, elektronik, kecantikan, dan lain-lain.
"Ini yang mesti diperhatikan juga oleh orang tua atau guru. Jadi tidak semata-mata mengejar target SNMPTN," ungkap Wartanto
Hal itu. kata Koordinator Penyusunan Soal SNMPTN Suparno, mestinya biso dilakukan jika sekolah mengutamakan belajar mandiri. Dengan kata lain, alokasi uang untuk bimbel menjelang SNMPTN bisa disisihkan untuk kursus keterampilan karena sekolah sendiri sudah matang mempersiapkan siswanya menghadapi SNMPTN.
Kematangan mempersiapkan diri oleh sekolah, jelas Suparno, memang perlu karena bisnis bimbel semakin menggiurkan akibat belum terbentuknya pola kedewasaan siswa dalam menghadapi ujian. Jika sekolah matang menyiapkan siswanya untuk SNMPTN, SNMPTN cuma dianggap proses pendidikan biasa.
"Jadi, dengan belajar mandiri yang dipersiapkan sekolah, orang tua tak perlu lagi merogoh kocek guna membiayai mahal-mahal anaknya ikut bimbel menjelang SNMPTN. Uang itu bis,) dialokasikan buat kursus keterampilan," kata Suparno.
Ketua Umum Federasi Guru Independen Indonesia (FG1U Suparman pun sama halnya dengan pendapat Suparno. Menurutnya, bimbel hanya memberikan target jangka pendek dan sisi pedagogis.sistem belajar sis,i secara mandiri tetap yang terbaik dan harus didesain sekolah. Adapun uang yang mestinya untuk bimbel bisa dialokasikan untuk inemberi keterampilan tambahan bagi sisu a." tandas Suparman. CH-2)
sumber
http://bataviase.co.id/node/664675
Bimbingan belajar (bimbel) pun akhirnya jadi incaran di masa kekosongan itu. Tak lain, tujuannya guna menambah latihan-latihan soal agar saat menghadapi SNMPTN tidak lagi grogi; dan \ ang paling utama agar his.) menembus salah satu perguruan tinggi negeri (PIN) favorit
Permasalahan \ ang ada -j.u ini banyak bimbel-bimbel \ ang memberi janji-janji ketulusan dengan jaminan uang kembali apabila anak tidak berhasil lu-lusSNMPl \ Hal itu tentunya bukan lagi menjadi ranah pendidikan yang bermanfaat bagi siswa.
"Janji-janji intelektual yang tidak mendidik itu, seperti jaminan uang kembali, justru membuat orang tua terpaksa menguras biaya. Hal ini yang harusnya mendapat perhatian para orang tua agar tidak terjebak papar pakar pendidikan dan Universitas Negeri |akarta it \H \net Rachman di |a-karta, Selasa (3/5).
Senada dengann) ,v koordinator koalisi Pendidikan Lody Paat. mengkritisi fungsi bimbel yang justru menjadi tempat mencari soal bocoran. Padahal, sejatinya bimbel itu untukmembantu murid belajar, sehingga paham atas mata pelajaran yang sulit dikuasai
Karena fungsi yang salah itulah, akhirnya banyak biaya besar keluar dari orang tua untuk biaya bimbel. Me-(m\ ,1 uang untuk bimbel itu bisa dialokasikan untuk kursus \ ang sifatnya keterampilan kat.i i od\
Pemerintah sendiri tak berkutik dengan kehadiran bimbel itu dan hal-hal yang sifatnya kursus keterampilan justru terabaikan Direktur Pembinaan kursus dan Pelatihan Kementerian Pendidikan \.i sional Wartanto mengakui. lakunya bimbel di era pra-SN-MPI\ tersobul adalah imbas dari masih tidak meratanyakualifikasi pengajar. Terutama, guru-guru mata pelajaran yang dipandang sulit oleh peserta didik seperti, matematika, tisika. bahasa inggris, dan kimia.
Anak tidak percaya diri, orang tua cemas, guru dan kepala sekolah pun khan .Hir Faktor-faktor itu. j ang saling mendukung fenomena menja-mumya bimbel ini." jelas-tu .1
Dengan segala keterbatasan infrastruktur dan sumber dayamanusia itulah, yang lantas membuat guru dan orang tua membiarkan kehadiran bimbel agar tetap memberi manfaat bagi anak.
Namun, jelas Wartanto hen dakm a orang tua juga memper-siapkan anaknya dengan keterampilan yang dapat diperoleh dari kursus keterampilan seperti, kursus bahasa asing, memasak, elektronik, kecantikan, dan lain-lain.
"Ini yang mesti diperhatikan juga oleh orang tua atau guru. Jadi tidak semata-mata mengejar target SNMPTN," ungkap Wartanto
Hal itu. kata Koordinator Penyusunan Soal SNMPTN Suparno, mestinya biso dilakukan jika sekolah mengutamakan belajar mandiri. Dengan kata lain, alokasi uang untuk bimbel menjelang SNMPTN bisa disisihkan untuk kursus keterampilan karena sekolah sendiri sudah matang mempersiapkan siswanya menghadapi SNMPTN.
Kematangan mempersiapkan diri oleh sekolah, jelas Suparno, memang perlu karena bisnis bimbel semakin menggiurkan akibat belum terbentuknya pola kedewasaan siswa dalam menghadapi ujian. Jika sekolah matang menyiapkan siswanya untuk SNMPTN, SNMPTN cuma dianggap proses pendidikan biasa.
"Jadi, dengan belajar mandiri yang dipersiapkan sekolah, orang tua tak perlu lagi merogoh kocek guna membiayai mahal-mahal anaknya ikut bimbel menjelang SNMPTN. Uang itu bis,) dialokasikan buat kursus keterampilan," kata Suparno.
Ketua Umum Federasi Guru Independen Indonesia (FG1U Suparman pun sama halnya dengan pendapat Suparno. Menurutnya, bimbel hanya memberikan target jangka pendek dan sisi pedagogis.sistem belajar sis,i secara mandiri tetap yang terbaik dan harus didesain sekolah. Adapun uang yang mestinya untuk bimbel bisa dialokasikan untuk inemberi keterampilan tambahan bagi sisu a." tandas Suparman. CH-2)
sumber
http://bataviase.co.id/node/664675
Pengertian, Tujuan dan Fungsi Bimbingan Belajar
Pengertian, Tujuan dan Fungsi Bimbingan Belajar
A. Pengertian Bimbingan
Pengertian-pengertian mengenai bimbingan dan konseling telah dirumuskan beberapa ahli, pengertian yang dikemukakan oleh para ahli tersebut berbeda antara satu dengan yang lain, secara umum bimbingan dapat diartikan sebagai suatu bantuan yang diberikan kepada orang lain yang bermasalah, dengan harapan orang tersebut dapat menerima keadaannya sehingga dapat mengatasi masalahnya dan mengadakan penyesuaian terhadap diri pribadi, lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat, untuk lebih jelasnya perhatikan uraian mengenai bimbingan dari beberapa ahli yang lebih mengarah kepada pelaksanaan bimbingan belajar di sekolah.
”Bimbingan adalah proses bantuan terhadap individu mendapat pemehaman dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum kepada sekolah, keluarga serta masyarakat”.
”Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan”.
Dari kedua definisi yang dikemukakan dapat disimpulkan mengenai pengertian bimbingan sebagai berikut :
Bimbingan adalah proses bantuan yang diberikan kepada individu yang membutuhkannya, bantuan yang diberikan tidak adanya unsur paksaan serta diberikan secara berencana dan sistematis.
Bimbingan diberikan kepada individu dengan maksud agar ia dapat memahami dirinya, kemudian mengarahkan dirinya sehingga tercapai kebahagiaan hidup pribadi.
B. Tujuan Bimbingan Belajar
Kegiatan bimbingan di sekolah merupakan bagian integral dari keseluruhan program kegiatan sekolah, terutama pada bimbingan belajar sehingga dapat diartikan bahwa tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah merupakan tujuan yang ingin dicapai bimbingan. Yang membedakan diantara keduanya ialah jenis kegiatannya, pendidikan terletak pada proses belajar mengajar yang penekanannya pada usaha-usaha kognitif,afektif dan psikomorik, sedangkan bimbingan terletak pada membina siswa dalam perkembangan pribadi, sosial psikologi, yang didasarkan pada kenyataan yang dihadapi siswa sehingga memerlukan bantuan tenaga profesional kependidikan dalam hal ini adalah guru pembimbing.
Proses belajar dapat diamati secara tidak langsung, artinya proses belajar yang merupakan proses internal siswa tidak dapat diamati, tetapi dapat dipahami oleh guru.
Program-progran pendidikan di sekolah termasuk program layanan bimbingan dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran sehingga proses pendidikan di sekolah akan lebih bermakna sesuai dengan kebutuhan anak didik dan kebutuhan masyarakat serta pembangunan.
Dengan perkataan lain, melalui kegiatan bimbingan di sekolah siswa mampu mengembangkan potensi dalam dirinya. Potensi lingkungannya, sehingga ia merencanakan masa depannya serta melanjutkan pendidikan kepada jenjang yang lebih tinngi. Dalam rangka menjawab tantangan masa depan yang lebih komfektif dan komplek, tenaga-tenaga profesional kependidikan mampu memberikan pelayanan yang terbaik pula bagi perkembangan anak didik sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, yaitu : ”Terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan kemampuan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.
C. Fungsi Bimbingan Belajar
Belajar adalah merupakan kegiatan fisik dan psikis yang tertinggi dalam kehidupan manusia, sebagai hasil kegiatan belajar dapat membawa pada perubahan dan peningkatan pandangan sikap dan tingkah laku yang baru dari hasil latihan belajar tersebut.
Proses belajar yang terjadi di sekolah harus senantiasa mempunyai tujuan yang jelas dan terarah sebagai pedoman dan panutan dalam aktivitas belajar sebagai seorang siswa, dalam tujuan tersebut pada dasarnya menyangkut penguasaan bidang pengetahuan pembinaan sikap dan pengembangan keterampilan yang merupakan cita-cita sekolah yang diselenggarakan lewat pendidikan dan pengajaran.
Menurut Dewa Ketut Sukardi ada dua faktor yang timbul dalam kesulitan belajar, yaitu :
a. Faktor endogen, ialah faktor yang datang dari anak itu sendiri, hal ini dapat bersifat :
Biologis, ialah hambatan yang bersifat kejasmanian.
Fisikologis, ialah hambatan yang bersifat kejiwaan.
b. Faktor eksogen, ialah hambatan yang dapat timbul dari luar diri anak, faktor ini meliputi :
Faktor lingkungan keluarga.
Faktor lingkungan sekolah.
Faktor lingkungan masyarakat.
Kehadiran bimbingan dalam proses pendidikan dan pengajaran yang dilaksanakan, secara keseluruhan dapat berfungsi membantu dan menunjang usaha-usaha kearah kemajuan, kesejahteraan dan tercapainya tujuan pendidikan bagi sekolah maupun bagi anak didik terutama dalam proses belajar mengajar didalam pendidikan dan pengajaran yang dijalankan.
Fungsi utama bimbingan yang didukung oleh layanan pembelajaran ialah fungsi pemeliharaan yang pengembangan yang akan menghasilkan terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif anak didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan.
Menurut Prayetno dalam bukunya ”Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah” mengemukakan ada lima fungsi pokok pelayanan bimbingan yaitu :
a. Pengenalan diri
Upaya utama didalam bimbingan dalam rangka menemukan dan memberikan pemahaman terhadap potensi dan kemampuan bakat dan minat, kebutuhan-kebutuhan, sifat-sifat kepribadian, permasalahan dan kesulitan-kesulitan para siswa sesuai dengan fakta, data dan impormasi dirinya sehingga ia dapat menggali dirinya secara utuh dan menyeluruh agar dapat disalurkan dengan sewajarnya.
b. Pencegahan masalah
Di dalam bimbingan terhadap upaya provinsip (pencegahan) dan kuratip (penyuluhan) terhadap segala permasalahan, baik yang belum terjadi maupun yang sedang mengalami kesulitan didalam memecahkannya, kemudian berupaya meluruskan agar para siswa dapat berbuat dan bertindak tanpa adanya ketergantungan kepada orang lain.
c. Kesejahteraan sekolah
Bimbingan dapat mengefektifkan segala tujuan yang ingin dicapai di sekolah, disamping membantu petugas-petugas sekolah terutama Kepala Sekolah dan guru-guru di dalam rangka menciptakan situasi dan kondisi atau iklim sekolah yang harmonis, sehat dan dinamis bagi keberhasilan pendidikan dan pengajaran.
--------------------------------------------
DAFTAR PUSTAKA
PENGERTIAN, TUJUAN DAN FUNGSI BIMBINGAN BELAJAR
Djumhur dan Moh. Surya, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, CV. Ilmu Bandung. 1975.
Prof. Dr. Prayetno, M.sc. Ed, dkk. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, _____________1997
A. Pengertian Bimbingan
Pengertian-pengertian mengenai bimbingan dan konseling telah dirumuskan beberapa ahli, pengertian yang dikemukakan oleh para ahli tersebut berbeda antara satu dengan yang lain, secara umum bimbingan dapat diartikan sebagai suatu bantuan yang diberikan kepada orang lain yang bermasalah, dengan harapan orang tersebut dapat menerima keadaannya sehingga dapat mengatasi masalahnya dan mengadakan penyesuaian terhadap diri pribadi, lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat, untuk lebih jelasnya perhatikan uraian mengenai bimbingan dari beberapa ahli yang lebih mengarah kepada pelaksanaan bimbingan belajar di sekolah.
”Bimbingan adalah proses bantuan terhadap individu mendapat pemehaman dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum kepada sekolah, keluarga serta masyarakat”.
”Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan”.
Dari kedua definisi yang dikemukakan dapat disimpulkan mengenai pengertian bimbingan sebagai berikut :
Bimbingan adalah proses bantuan yang diberikan kepada individu yang membutuhkannya, bantuan yang diberikan tidak adanya unsur paksaan serta diberikan secara berencana dan sistematis.
Bimbingan diberikan kepada individu dengan maksud agar ia dapat memahami dirinya, kemudian mengarahkan dirinya sehingga tercapai kebahagiaan hidup pribadi.
B. Tujuan Bimbingan Belajar
Kegiatan bimbingan di sekolah merupakan bagian integral dari keseluruhan program kegiatan sekolah, terutama pada bimbingan belajar sehingga dapat diartikan bahwa tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah merupakan tujuan yang ingin dicapai bimbingan. Yang membedakan diantara keduanya ialah jenis kegiatannya, pendidikan terletak pada proses belajar mengajar yang penekanannya pada usaha-usaha kognitif,afektif dan psikomorik, sedangkan bimbingan terletak pada membina siswa dalam perkembangan pribadi, sosial psikologi, yang didasarkan pada kenyataan yang dihadapi siswa sehingga memerlukan bantuan tenaga profesional kependidikan dalam hal ini adalah guru pembimbing.
Proses belajar dapat diamati secara tidak langsung, artinya proses belajar yang merupakan proses internal siswa tidak dapat diamati, tetapi dapat dipahami oleh guru.
Program-progran pendidikan di sekolah termasuk program layanan bimbingan dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran sehingga proses pendidikan di sekolah akan lebih bermakna sesuai dengan kebutuhan anak didik dan kebutuhan masyarakat serta pembangunan.
Dengan perkataan lain, melalui kegiatan bimbingan di sekolah siswa mampu mengembangkan potensi dalam dirinya. Potensi lingkungannya, sehingga ia merencanakan masa depannya serta melanjutkan pendidikan kepada jenjang yang lebih tinngi. Dalam rangka menjawab tantangan masa depan yang lebih komfektif dan komplek, tenaga-tenaga profesional kependidikan mampu memberikan pelayanan yang terbaik pula bagi perkembangan anak didik sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, yaitu : ”Terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan kemampuan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.
C. Fungsi Bimbingan Belajar
Belajar adalah merupakan kegiatan fisik dan psikis yang tertinggi dalam kehidupan manusia, sebagai hasil kegiatan belajar dapat membawa pada perubahan dan peningkatan pandangan sikap dan tingkah laku yang baru dari hasil latihan belajar tersebut.
Proses belajar yang terjadi di sekolah harus senantiasa mempunyai tujuan yang jelas dan terarah sebagai pedoman dan panutan dalam aktivitas belajar sebagai seorang siswa, dalam tujuan tersebut pada dasarnya menyangkut penguasaan bidang pengetahuan pembinaan sikap dan pengembangan keterampilan yang merupakan cita-cita sekolah yang diselenggarakan lewat pendidikan dan pengajaran.
Menurut Dewa Ketut Sukardi ada dua faktor yang timbul dalam kesulitan belajar, yaitu :
a. Faktor endogen, ialah faktor yang datang dari anak itu sendiri, hal ini dapat bersifat :
Biologis, ialah hambatan yang bersifat kejasmanian.
Fisikologis, ialah hambatan yang bersifat kejiwaan.
b. Faktor eksogen, ialah hambatan yang dapat timbul dari luar diri anak, faktor ini meliputi :
Faktor lingkungan keluarga.
Faktor lingkungan sekolah.
Faktor lingkungan masyarakat.
Kehadiran bimbingan dalam proses pendidikan dan pengajaran yang dilaksanakan, secara keseluruhan dapat berfungsi membantu dan menunjang usaha-usaha kearah kemajuan, kesejahteraan dan tercapainya tujuan pendidikan bagi sekolah maupun bagi anak didik terutama dalam proses belajar mengajar didalam pendidikan dan pengajaran yang dijalankan.
Fungsi utama bimbingan yang didukung oleh layanan pembelajaran ialah fungsi pemeliharaan yang pengembangan yang akan menghasilkan terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif anak didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan.
Menurut Prayetno dalam bukunya ”Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah” mengemukakan ada lima fungsi pokok pelayanan bimbingan yaitu :
a. Pengenalan diri
Upaya utama didalam bimbingan dalam rangka menemukan dan memberikan pemahaman terhadap potensi dan kemampuan bakat dan minat, kebutuhan-kebutuhan, sifat-sifat kepribadian, permasalahan dan kesulitan-kesulitan para siswa sesuai dengan fakta, data dan impormasi dirinya sehingga ia dapat menggali dirinya secara utuh dan menyeluruh agar dapat disalurkan dengan sewajarnya.
b. Pencegahan masalah
Di dalam bimbingan terhadap upaya provinsip (pencegahan) dan kuratip (penyuluhan) terhadap segala permasalahan, baik yang belum terjadi maupun yang sedang mengalami kesulitan didalam memecahkannya, kemudian berupaya meluruskan agar para siswa dapat berbuat dan bertindak tanpa adanya ketergantungan kepada orang lain.
c. Kesejahteraan sekolah
Bimbingan dapat mengefektifkan segala tujuan yang ingin dicapai di sekolah, disamping membantu petugas-petugas sekolah terutama Kepala Sekolah dan guru-guru di dalam rangka menciptakan situasi dan kondisi atau iklim sekolah yang harmonis, sehat dan dinamis bagi keberhasilan pendidikan dan pengajaran.
--------------------------------------------
DAFTAR PUSTAKA
PENGERTIAN, TUJUAN DAN FUNGSI BIMBINGAN BELAJAR
Djumhur dan Moh. Surya, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, CV. Ilmu Bandung. 1975.
Prof. Dr. Prayetno, M.sc. Ed, dkk. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, _____________1997
Bahasa Isyarat Mempercepat Komunikasi Dini
Program bahasa isyarat bayi merupakan program yang bertujuan untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan bayi melalui bahasa isyarat karena bayi belum bisa berbicara. Seringkali bayi menangis dan berteriak karena kebutuhannya tidak terpenuhi. Sebagai orang tua, kita sudah berusaha memenuhi dan memberikan apa yang dibutuhkannya namun ternyata tidak sesuai dengan yang bayi mau.
Program bahasa isyarat bayi memang akan memperlancar komunikasi antara bayi dan orang tua. Orang tua tidak perlu menerka-nerka apa yang bayi butuhkan. Melalui bahasa isyarat yang diajarkan kepada bayi, bayi akan memberi tahu orang tua tentang apa yang dia ingin sampaikan. Hal ini juga berdampak dalam mengurangi stres orang tua dan anak karena kesalahpahaman dapat terhindarkan. Selain itu, dengan gerakan tangan akan melatih fungsi motorik bayi. Bahasa isyarat juga berperan dalam melindungi bayi karena ada bahasa isyarat “jangan” yang bisa menghindarkan bayi dari hal-hal yang berbahaya.
Bahasa isyarat memang akan mempercepat komunikasi dini karena bisa dipraktekkan sejak bayi berusia 6 bulan. Tidak perlu menunggu bayi bisa berbicara, melalui gerakan tangan dan anggota tubuh yang lain, bayi tetap bisa berbicara. Dengan bisa berkomunikasi, hal ini akan mempercepat anak bicara. Hasil penelitian pun menunjukkan bahwa bayi yang telah mengenal bahasa isyarat lebih cepat bisa berbicara. Bayi akan senang karena maksudnya tersampaikan, dan akan mendorongnya untuk lebih sering bercerita dan berbicara.
Salah satu cara untuk mengetahui program ini adalah melalui ebook bahasa isyarat bayi yang banyak dijual di pasaran. Di dalam ebook, orang tua bisa mengetahui seputar bahasa isyarat, manfaatnya dan cara penerapannya. Tidak hanya itu, ebook juga dilengkapi dengan foto yang memperagakan bahasa isyarat tersebut. Ebook berisi banyak bahasa dan bisa mencakup sekitar 50 bahasa isyarat yang mudah dipahami oleh bayi. Program bahasa isyarat bayi itu mencakup bahasa lapar, haus, ingin main, ingin digendong, ingin tidur dan masih banyak lagi. Oleh sebab itu, carilah ebook bahasa isyarat bayi jika Anda ingin serius untuk mulai mengajarkan bahasa isyarat dan menjalin komunikasi yang lebih mudah dengan bayi tercinta Anda.
Program bahasa isyarat bayi memang akan memperlancar komunikasi antara bayi dan orang tua. Orang tua tidak perlu menerka-nerka apa yang bayi butuhkan. Melalui bahasa isyarat yang diajarkan kepada bayi, bayi akan memberi tahu orang tua tentang apa yang dia ingin sampaikan. Hal ini juga berdampak dalam mengurangi stres orang tua dan anak karena kesalahpahaman dapat terhindarkan. Selain itu, dengan gerakan tangan akan melatih fungsi motorik bayi. Bahasa isyarat juga berperan dalam melindungi bayi karena ada bahasa isyarat “jangan” yang bisa menghindarkan bayi dari hal-hal yang berbahaya.
Bahasa isyarat memang akan mempercepat komunikasi dini karena bisa dipraktekkan sejak bayi berusia 6 bulan. Tidak perlu menunggu bayi bisa berbicara, melalui gerakan tangan dan anggota tubuh yang lain, bayi tetap bisa berbicara. Dengan bisa berkomunikasi, hal ini akan mempercepat anak bicara. Hasil penelitian pun menunjukkan bahwa bayi yang telah mengenal bahasa isyarat lebih cepat bisa berbicara. Bayi akan senang karena maksudnya tersampaikan, dan akan mendorongnya untuk lebih sering bercerita dan berbicara.
Salah satu cara untuk mengetahui program ini adalah melalui ebook bahasa isyarat bayi yang banyak dijual di pasaran. Di dalam ebook, orang tua bisa mengetahui seputar bahasa isyarat, manfaatnya dan cara penerapannya. Tidak hanya itu, ebook juga dilengkapi dengan foto yang memperagakan bahasa isyarat tersebut. Ebook berisi banyak bahasa dan bisa mencakup sekitar 50 bahasa isyarat yang mudah dipahami oleh bayi. Program bahasa isyarat bayi itu mencakup bahasa lapar, haus, ingin main, ingin digendong, ingin tidur dan masih banyak lagi. Oleh sebab itu, carilah ebook bahasa isyarat bayi jika Anda ingin serius untuk mulai mengajarkan bahasa isyarat dan menjalin komunikasi yang lebih mudah dengan bayi tercinta Anda.
Tontonan Yang Berguna Bagi Pertumbuhan Otak Anak
Menurut para ahli, aktivitas menonton televisi bagi anak dibawah usia dua tahun sangat tidak disarankan untuk dilakukan।
Hasil penelitian yang pernah dilakukan menunjukan bahwa anak yang berusia dibawah dua tahun belum dapat mencerna konten dari program acara yang mereka tonton.
Bagi mereka tontonan tersebut hanyalah berupa sekumpulan warna, gambar dan suara yang saling berganti setiap lima hingga delapan detik.
Untuk mereka yang berusia diatas dua tahun, lebih disarankan untuk menikmati program televisi yang bertemakan pendidikan. Sebab untuk konten hiburan seperti kartun misalnya, belum tentu memberikan tontonan yang aman bagi mereka, walaupun cerita yang dihadirkan mengandung nilai-nilai yang mendidik anak.
Konten kartun tidak sedikit yang mengandung adegan kekerasan, hanya saja disajikan dalam bentuk kartun. Tontonan yang demikian menurut para ahli dapat menciptakan resiko perilaku agresif pada anak yang mengarah kepada tindak kekerasan.
Disamping itu potensi munculnya trauma pada anak juga besar, akibat ketidakmampuan mereka menjustifikasi bahwa apa yang mereka lihat di televisi merupakan sesuatu yang dikondisikan oleh pembuat program.
Akibat yang mungkin muncul adalah anak menjadi trauma untuk menginjak ke dunia yang sebenarnya, akibat tayangan yang mereka saksikan. Jika Anda memutuskan untuk memberikan mereka keleluasan dalam menonton program-program yang mengandung hal-hal negatif bagi anak, Anda disarankan untuk mendampingi mereka ketika menonton.
Sehingga Anda dapat memberikan justifikasi terhadap apa yang mereka lihat, bukan sebagai fakta yang benar-benar terjadi di lapangan.
Program-program televisi yang bersifat mendidik juga jumlahnya tidak sedikit. Beragam format program telah hadir, dikemas dengan modern dan menarik pada televisi lokal dapat menjadi pilihan bagi Anda dan buah hati Anda dalam menonton televisi.
Dengan menyaksikan program yang bersifat demikian diharapkan otak mereka dapat lebih terstimulasi secara positif dibandingkan menyajikan acara-acara kartun yang hanya cenderung mengandung unsur hiburan disamping edukasi.
Intinya, prinsip tontonan yang baik bagi buah hati Anda adalah program-program atau tayangan yang tidak hanya bersifat edukatif, namun juga menghibur dan informatif.
sumber : http://seputaranak.com/tontonan-yang-berguna-bagi-pertumbuhan-otak-anak.html
Hasil penelitian yang pernah dilakukan menunjukan bahwa anak yang berusia dibawah dua tahun belum dapat mencerna konten dari program acara yang mereka tonton.
Bagi mereka tontonan tersebut hanyalah berupa sekumpulan warna, gambar dan suara yang saling berganti setiap lima hingga delapan detik.
Untuk mereka yang berusia diatas dua tahun, lebih disarankan untuk menikmati program televisi yang bertemakan pendidikan. Sebab untuk konten hiburan seperti kartun misalnya, belum tentu memberikan tontonan yang aman bagi mereka, walaupun cerita yang dihadirkan mengandung nilai-nilai yang mendidik anak.
Konten kartun tidak sedikit yang mengandung adegan kekerasan, hanya saja disajikan dalam bentuk kartun. Tontonan yang demikian menurut para ahli dapat menciptakan resiko perilaku agresif pada anak yang mengarah kepada tindak kekerasan.
Disamping itu potensi munculnya trauma pada anak juga besar, akibat ketidakmampuan mereka menjustifikasi bahwa apa yang mereka lihat di televisi merupakan sesuatu yang dikondisikan oleh pembuat program.
Akibat yang mungkin muncul adalah anak menjadi trauma untuk menginjak ke dunia yang sebenarnya, akibat tayangan yang mereka saksikan. Jika Anda memutuskan untuk memberikan mereka keleluasan dalam menonton program-program yang mengandung hal-hal negatif bagi anak, Anda disarankan untuk mendampingi mereka ketika menonton.
Sehingga Anda dapat memberikan justifikasi terhadap apa yang mereka lihat, bukan sebagai fakta yang benar-benar terjadi di lapangan.
Program-program televisi yang bersifat mendidik juga jumlahnya tidak sedikit. Beragam format program telah hadir, dikemas dengan modern dan menarik pada televisi lokal dapat menjadi pilihan bagi Anda dan buah hati Anda dalam menonton televisi.
Dengan menyaksikan program yang bersifat demikian diharapkan otak mereka dapat lebih terstimulasi secara positif dibandingkan menyajikan acara-acara kartun yang hanya cenderung mengandung unsur hiburan disamping edukasi.
Intinya, prinsip tontonan yang baik bagi buah hati Anda adalah program-program atau tayangan yang tidak hanya bersifat edukatif, namun juga menghibur dan informatif.
sumber : http://seputaranak.com/tontonan-yang-berguna-bagi-pertumbuhan-otak-anak.html
Langganan:
Postingan (Atom)