Cara Atasi Sifat Pemalu Anak
Jika anak Anda benar-benar pemalu, jangan sekali-kali melabelnya, karena akan membuat rasa malu anak semakin menjadi. Ingat, anak akan berperilaku sesuai dengan apa yang dilabelkan. Anda bisa turut andil meminimalkan sifat pemalu pada anak.
Sebelumnya, yang perlu orangtua lakukan adalah mencari tahu, apa penyebabnya serta dalam situasi dan kondisi seperti apa anak menjadi pemalu. Apakah hanya ketika di luar rumah, di saat situasi tertentu saja, dan sebagainya. Dengan begitu, orangtua memiliki data akurat sebelum menangangi penyebabnya.
1. Kontak mata
Ketika berbicara dengan anak, minta ia selalu untuk menatap mata Anda. Dengan memaksa dan menerapkannya setiap waktu, lambat laun anak akan terbiasa melakukan kontak mata dengan lawan bicara.
Jika anak tidak merasa nyaman menatap tepat di mata lawan bicara, ajarkan ia untuk menatap puncak hidung di antara kedua mata orang di hadapannya. Dengan praktik berulang kali, anak tidak akan memerlukan teknik ini lagi dan lebih percaya diri untuk menatap langsung mata lawan bicaranya.
2. Melatih percakapan
Buat daftar berisi kalimat pembuka percakapan yang mudah digunakan anak untuk bercakap-cakap dengan berbagai kelompok orang, misalnya orang yang telah dikenalnya, orang dewasa yang belum pernah ditemuinya, teman lama yang jarang dijumpainya, anak baru di sekolah, atau anak yang sering bermain dengannya di taman bermain.
Setelah itu, ajak anak berlatih menggunakan kalimat-kalimat tersebut sampai merasa terbiasa dan nyaman mengucapkannya. Salah satu trik yang dapat digunakan adalah mempraktikkan perbincangan via telepon dengan pendengar suportif di ujung lain. Dengan demikian, anak tidak akan merasa setertekan seperti jika melakukan pembicaraan tatap muka.
3. Berlatih sosialisasi
Siapkan anak untuk menghadiri acara sosial yang akan segera diselenggarakan dengan menjelaskan latar, ekspektasi, serta para hadirin yang kira-kira datang ke acara itu. Kemudian, bantu anak berlatih bagaimana cara bertemu orang lain, tata krama di meja makan, keterampilan dasar berbicara, dan bagaimana cara mengucapkan salam perpisahan dengan anggun.
4. Lawan berlatih
Philip Zimbardo, yang terkenal sebagai pakar mengatasi rasa malu, merekomendasikan untuk memasangkan anak pemalu dengan anak yang lebih muda darinya untuk berlatih dalam periode singkat. Ciptakan kesempatan bagi anak untuk bermain dengan anak lain yang lebih muda darinya, misalnya adik, sepupu, anak tetangga, atau salah satu anak kenalan Anda.
Jika anak yang pemalu berusia remaja, coba menyuruhnya mengasuh anak kecil untuk mempraktikkan keahlian bersosialisasi yang enggan dipraktikkannya dengan anak-anak seusianya.
5. Satu lawan satu
Dr. Fred Frankel, seorang psikolog dan pembentuk Program Pelatihan Kemampuan Bersosialisasi UCLA, menyarankan permainan satu lawan satu sebagai cara terbaik bagi anak untuk membangun rasa percaya diri.
Dorong anak mengundang seorang temannya untuk bermain bersama selama beberapa jam hingga saling mengenal dan mempraktikkan keahlian berteman. Sediakan makanan kecil sebagai camilan dan cegah interupsi sedapat mungkin dari aktivitas mereka. Jangan izinkan anak menyalakan televisi selama sesi bermain tersebut.
Selanjutnya, orangtua bisa melakukan sejumlah cara ini:
1. Ajari anak untuk bersikap, berperilaku, mau pun bertata krama dalam beragam situasi tertentu. Bagaimana ia belajar memulai percakapan dengan menyapa temannya. Misalnya menanyakan kabar, memuji penampilan, atau membagi makanan ringan yang dibawanya. Setelah komunikasi pertama berjalan lancar, anak bisa belajar mengangkat topik yang sedang hangat atau menjadi kesukaan anak.
2. Beri anak pelatihan agar ia terampil bicara di depan orang banyak atau umum, dimulai dengan berbicara di depan cermin, lalu di depan orangtua dan saudaranya di rumah.
3. Ajarkan juga agar ia dapat memimpin dengan memberinya tugas dan tanggung jawab, seperti memimpin doa di kelas.
4. Doronglah ia agar berani dan terbuka saat mengungkapkan unek-unek atas kekesalannya.
5. Orangtua memberikan contoh, bagaimana menjadi pribadi yang percaya diri dan berani, sehingga anak bisa menirunya. Saat berada di restoran, lalu mendapatkan makanan yang tidak sesuai pesanan, misalnya, orangtua berani memanggil pramusaji untuk memintanya menggantinya.
6. Ciptakan lingkungan yang aman bagi anak, sehingga anak tidak merasa cemas atau takut dipersalahkan, ditertawakan, dimarahi, dan sebagainya.
7. Bantu anak membuat dirinya merasa nyaman dengan perasaannya, juga membantu menumbuhkan rasa percaya dirinya dengan berbagai keterampilan.
Bila orangtua merasa sudah maksimal namun tetap tak berhasil mengubah sifat pemalu anak, tak ada salahnya meminta bantuan ahli. Dengan begitu, potensi dan kemampuan sosialisasi anak tidak terganggu karena rasa malu yang berlebihan.
sumber : www.balita-anda.com
Selasa, 13 Desember 2011
Jumat, 02 Desember 2011
KOMPUTER INI MENGGUNAKAN DUAL OPERATING SYSTEM (OS)
KOMPUTER INI MENGGUNAKAN
DUAL OPERATING SYSTEM (OS)
2 BUAH SISTEM OPERASI
CREATED BY : HUDI JUMONO, ST (OMHUDI)
Jika anda ingin bergabung di Facebooknya (aktifkan dulu internetmu), klik link berikut ini kemudian klik Allow
www.facebook.com/public/Hudi-Jumono
Anda juga dapat menghubungi dari sellular anda di
Esia 021 9913 3442, IM3 0856 9701 5854, AS 0853 8420 8528
Anda juga dapat melihat blog pada link berikut ini :
www.bimbelmahardika.blogspot.com
Operating system merupakan program agar komputer dapat digunakan dengan maksimal. Tanpa adanya operating system, komputer bagaikan seonggok batu yang tidak berguna. Operating System ada banyak sekali yaitu Windows 95, Windows 97, Windows 98, Windows Mellenium, Windows 2000, Windows 2003, Windows XP, Windows Vista sampai Windows 7.
Pada komputer ini saya buat DUAL OPERATING SYSTEM sesuai dengan selera anda. Misalnya anda menginginkan Windows XP dan Windows 7, maka komputer anda akan memiliki 2 OS yang tidak saling mengganggu karena dibantu program PowerQuest Partition Magic.
CARA PEMINDAHAN OS
Jika anda sekarang sedang menggunakan OS Windows 7,
1. Klik SRART
2. Klik ALL PROGRAM
3. Klik PowerQuest Partition Magic
4. Klik PQBoot For Windows
5. Akan tampil jendela Klik yes
6. Klik Run Program
7. Pindahkan pilihan
8. Klik OK
DUAL OPERATING SYSTEM (OS)
2 BUAH SISTEM OPERASI
CREATED BY : HUDI JUMONO, ST (OMHUDI)
Jika anda ingin bergabung di Facebooknya (aktifkan dulu internetmu), klik link berikut ini kemudian klik Allow
www.facebook.com/public/Hudi-Jumono
Anda juga dapat menghubungi dari sellular anda di
Esia 021 9913 3442, IM3 0856 9701 5854, AS 0853 8420 8528
Anda juga dapat melihat blog pada link berikut ini :
www.bimbelmahardika.blogspot.com
Operating system merupakan program agar komputer dapat digunakan dengan maksimal. Tanpa adanya operating system, komputer bagaikan seonggok batu yang tidak berguna. Operating System ada banyak sekali yaitu Windows 95, Windows 97, Windows 98, Windows Mellenium, Windows 2000, Windows 2003, Windows XP, Windows Vista sampai Windows 7.
Pada komputer ini saya buat DUAL OPERATING SYSTEM sesuai dengan selera anda. Misalnya anda menginginkan Windows XP dan Windows 7, maka komputer anda akan memiliki 2 OS yang tidak saling mengganggu karena dibantu program PowerQuest Partition Magic.
CARA PEMINDAHAN OS
Jika anda sekarang sedang menggunakan OS Windows 7,
1. Klik SRART
2. Klik ALL PROGRAM
3. Klik PowerQuest Partition Magic
4. Klik PQBoot For Windows
5. Akan tampil jendela Klik yes
6. Klik Run Program
7. Pindahkan pilihan
8. Klik OK
Jumat, 28 Oktober 2011
Minggu, 09 Oktober 2011
PendidikanAnak
Pendidikan Anak
Sebagai orang tua kita ingin memberikan pendidikan yang terbaik pada anak-anak kita. Dan hal itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, memilihkan sekolah yang baik buat anak-anak kita.
Saat memasukan anak-anak kita ke playgroup berbeda dengan TK, karena yang diutamakan adalah beradaptasi/sosialisasi dengan teman sebayanya disamping ada tujuan lain diantaranya :
bermain & bersenang-senang, sharing, merasakan “menang dan kalah”, melatih kreatifitas anak, melatih motorik kasarnya, mempersiapkan anak agar pada saat masuk TK sudah tidak lagi susah dalam bergaul / beradaptasi dengan guru serta teman-temannya..
Untuk pertimbangan pemilihan TK diantaranya adalah :
Agama, mencari sekolah yang sesuai dengan agama karena pelajaran agama harus sudah dikenalkan kepada anak dari sejak dia dalam kandungan Ortua & juga sejak dia sudah mengetahui/ mengenal agamanya. Atau mencari sekolah yang tidak berdasarkan agama tertentu sehingga diharapkan anak menyadari dan mengetahui adanya perbedaan agama, perbedaan ras dan anak dapat bersikap sopan terhadap yang lain dan anak sadar akan identitas dirinya tetapi juga luwes bergaul dengan mereka yang berbeda dari dirinya.
Lokasi, dekat dengan rumah karena anak masih kecil, mudah untuk diantar dan dijemput. Jika terpaksa memilih sekolah yang letaknya jauh dari rumah, pengunaan bis sekolah dapat dipertimbangkan. Bis sekolah dapat melatih anak untuk mandiri dan bersosialisai dengan teman–teman yang berada dalam bis tersebut apalagi jika kedua orang tua bekerja dan tidak ada yang dapat mengantar dan menjemput, tetapi jika mengunakan bis sekolah anak akan berada terlalu lama dalam bis sekolah.
Kurikulum, mutu pendidikan, kemampuan guru, dan sekolah tidak mematikan kreatifitas anak, dimana anak tidak dituntut untuk mengikuti kehendak gurunya.
Biaya, dengan biaya yang tidak terlalu mahal dan kualitas yang tidak mengecewakan.
Saat anak memasuki sekolah yang lebih tinggi SD, SMP, SMA pertimbangan mutu sekolah, disiplin sangat diutamakan, kemudian kita berpikir untuk memasukan anak-anak kita pada sekolah swasta sesuai dengan agama atau pertimbangan lainya. Sekolah swasta memiliki fasilitas lebih dari sekolah negeri, dan guru yang selalu membimbing, mengarahkan dapat mudah ditemui, dengan bayaran yang tinggi sekolah swasta hanya dapat dinikmati golongan tertentu yang akhirnya tidak ada perbedaan yang mencolok. Berbeda dengan sekolah negeri yang miskin akan fasilitas, guru yang terkadang tidak ditempat, sehingga murid “dipaksa” untuk mampu mandiri dan belajar sendiri, dan banyak keanekaragaman murid. Kebanyakan dan disadari atau tidak, memilih sekolah terkadang merupakan obsesi dari orang tua & rasa cinta Almamater.
Pendidikan anak bukan hanya disekolah saja, tetapi dirumah dan di masyarakat sekitar kita. Sebagai orangtua hanya berusaha membangun fondasi yang kuat untuk mereka termasuk mental-spiritual dan kita harus dapat menjadi teladan yang baik untuk anak kita.
Sebagai orangtua sebaiknya tidak hanya memikirkan IQ anak saja tetapi kita berusaha membentuk keseimbangan antara IQ dan EQ (kecerdasan emosional seseorang yang dipengaruhi oleh lingkungan), karena dengan EQ tinggi anak diharapkan dapat survive dalam segala masalah hidup walaupun anak itu hanya memiliki IQ yg rendah, dia mampu menghadapai kegagalan dan belajar mengambil pelajaran dari kegagalan tersebut. Pada seseorang yang memiliki EQ rendah sedangkan berIQ tinggi, atau di atas rata – rata akan mempunyai kecendrungan untuk sulit menguasai emosi.
Apapun usaha dan harapan orangtua pada anak hrus diingat bahwa itu adalah kehidupan anak bukan milik kita, maksud kita ingin anak kreatif dan mandir tetapi sudah ngatur semua masa depannya.
Sumber :http://episentrum.com/artikel-psikologi/pendidikan-anak/#more-81
Sebagai orang tua kita ingin memberikan pendidikan yang terbaik pada anak-anak kita. Dan hal itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, memilihkan sekolah yang baik buat anak-anak kita.
Saat memasukan anak-anak kita ke playgroup berbeda dengan TK, karena yang diutamakan adalah beradaptasi/sosialisasi dengan teman sebayanya disamping ada tujuan lain diantaranya :
bermain & bersenang-senang, sharing, merasakan “menang dan kalah”, melatih kreatifitas anak, melatih motorik kasarnya, mempersiapkan anak agar pada saat masuk TK sudah tidak lagi susah dalam bergaul / beradaptasi dengan guru serta teman-temannya..
Untuk pertimbangan pemilihan TK diantaranya adalah :
Agama, mencari sekolah yang sesuai dengan agama karena pelajaran agama harus sudah dikenalkan kepada anak dari sejak dia dalam kandungan Ortua & juga sejak dia sudah mengetahui/ mengenal agamanya. Atau mencari sekolah yang tidak berdasarkan agama tertentu sehingga diharapkan anak menyadari dan mengetahui adanya perbedaan agama, perbedaan ras dan anak dapat bersikap sopan terhadap yang lain dan anak sadar akan identitas dirinya tetapi juga luwes bergaul dengan mereka yang berbeda dari dirinya.
Lokasi, dekat dengan rumah karena anak masih kecil, mudah untuk diantar dan dijemput. Jika terpaksa memilih sekolah yang letaknya jauh dari rumah, pengunaan bis sekolah dapat dipertimbangkan. Bis sekolah dapat melatih anak untuk mandiri dan bersosialisai dengan teman–teman yang berada dalam bis tersebut apalagi jika kedua orang tua bekerja dan tidak ada yang dapat mengantar dan menjemput, tetapi jika mengunakan bis sekolah anak akan berada terlalu lama dalam bis sekolah.
Kurikulum, mutu pendidikan, kemampuan guru, dan sekolah tidak mematikan kreatifitas anak, dimana anak tidak dituntut untuk mengikuti kehendak gurunya.
Biaya, dengan biaya yang tidak terlalu mahal dan kualitas yang tidak mengecewakan.
Saat anak memasuki sekolah yang lebih tinggi SD, SMP, SMA pertimbangan mutu sekolah, disiplin sangat diutamakan, kemudian kita berpikir untuk memasukan anak-anak kita pada sekolah swasta sesuai dengan agama atau pertimbangan lainya. Sekolah swasta memiliki fasilitas lebih dari sekolah negeri, dan guru yang selalu membimbing, mengarahkan dapat mudah ditemui, dengan bayaran yang tinggi sekolah swasta hanya dapat dinikmati golongan tertentu yang akhirnya tidak ada perbedaan yang mencolok. Berbeda dengan sekolah negeri yang miskin akan fasilitas, guru yang terkadang tidak ditempat, sehingga murid “dipaksa” untuk mampu mandiri dan belajar sendiri, dan banyak keanekaragaman murid. Kebanyakan dan disadari atau tidak, memilih sekolah terkadang merupakan obsesi dari orang tua & rasa cinta Almamater.
Pendidikan anak bukan hanya disekolah saja, tetapi dirumah dan di masyarakat sekitar kita. Sebagai orangtua hanya berusaha membangun fondasi yang kuat untuk mereka termasuk mental-spiritual dan kita harus dapat menjadi teladan yang baik untuk anak kita.
Sebagai orangtua sebaiknya tidak hanya memikirkan IQ anak saja tetapi kita berusaha membentuk keseimbangan antara IQ dan EQ (kecerdasan emosional seseorang yang dipengaruhi oleh lingkungan), karena dengan EQ tinggi anak diharapkan dapat survive dalam segala masalah hidup walaupun anak itu hanya memiliki IQ yg rendah, dia mampu menghadapai kegagalan dan belajar mengambil pelajaran dari kegagalan tersebut. Pada seseorang yang memiliki EQ rendah sedangkan berIQ tinggi, atau di atas rata – rata akan mempunyai kecendrungan untuk sulit menguasai emosi.
Apapun usaha dan harapan orangtua pada anak hrus diingat bahwa itu adalah kehidupan anak bukan milik kita, maksud kita ingin anak kreatif dan mandir tetapi sudah ngatur semua masa depannya.
Sumber :http://episentrum.com/artikel-psikologi/pendidikan-anak/#more-81
Minggu, 25 September 2011
Menjalin Hubungan Sinergis antara Sekolah dan Bimbel dalam Mencerdaskan Anak Bangsa
Sekolah dan bimbingan belajar (bimbel) adalah dua institusi yang tak terpisahkan dalam proses pendidikan. Keduanya mempunyai peran vital bagi perkembangan belajar siswa. Seorang siswa dituntut untuk berprestasi akademik yang hasilnya dapat diukur secara kuantitatif dalam ulangan harian, ujian tengah semester (UTS), ujian akhir semester (UAS), dan ujian nasional (UN). Khusus untuk siswa kelas 9 dan 12, harapan mereka tidak hanya mendapat nilai baik dalam ujian-ujian itu, tetapi juga mendapat sekolah unggulan untuk jenjang pendidikan selanjutnya. Hubungan sinergis antara sekolah dan bimbel mutlak diperlukan. Sebuah sekolah dengan puluhan atau ratusan siswanya harus dibimbing agar mereka dapat meraih prestasi akademik. Apalagi dengan makin tingginya standar kelulusan yang ditetapkan pemerintah dan persaingan ketat untuk masuk sekolah unggulan, siswa diharapkan meraih prestasi maksimal.
Pola hubungan yang dapat dijalin antara keduanya dapat dilakukan pada berbagai hal. Yang pertama adalah pendalaman materi pelajaran. Dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah, guru mengajarkan konsep-konsep dasar, teori, serta latihan soal kepada siswa. Melalui latihan-latihan soal inilah, bimbel dapat berperan untuk mendalami kembali materi-materi yang diajarkan guru di sekolah. Bimbel harus mempunyai semacam bank soal. Dengan intensifnya latihan-latihan soal dari bimbel, siswa diharapkan dapat mengaplikasi apa yang diajarkan oleh guru di sekolah untuk menjawab pertanyaan yang diajukan dalam soal.
Hubungan sinergis yang kedua adalah konsultasi pelajaran. Siswa terkadang malu atau bahkan takut untuk bertanya lebih jauh dalam KBM di sekolah. Untuk mengatasi hal itu, siswa harus bertanya kepada gurunya di luar kelas. Pada diri sebagian siswa, kadang muncul kendala psikologis untuk bertanya lebih lanjut. Guru bimbel dapat mengisi peran konsultan pelajaran. Dengan penjelasan yang berbeda, tetapi tetap mengarah pada tujuan materi yang sama, siswa dapat lebih memahami materi yang didapatnya dari sekolah.
Selain proses pemahaman dan pendalaman materi, siswa juga harus diukur kemampuannya melalui kuis atau ulangan harian di sekolah. Hasil ulangan atau kuis itulah yang menjadi panduan guru sekolah untuk mengetahui kemajuan belajar siswa. Pengujian berkala ini dapat juga dilakukan oleh bimbel yang biasa dinamakan dengan try out. Siswa dapat membandingkan hasil try out di bimbel dengan nilai-nilai ujian di sekolah. Guru bimbel harus bisa menjelaskan dan menafsirkan hasil try out kepada siswa dengan baik sehingga siswa tidak terlampau jatuh mentalnya atau terlalu percaya diri dengan nilai yang didapat.
Siswa kelas IX dan XII tidak hanya membutuhkan materi pelajaran, tetapi juga informas-informasi yang berkaitan dengan pendidikan yang akan ditempuhnya setelah lulus. Siswa kelas 9 membutuhkan informasi tentang sekolah-sekolah yang akan ia tempuh nanti, apakah SMA atau SMK. Permasalahan siswa kelas 12 lebih kompleks lagi. Mereka dihadapkan pada banyak pilihan pendidikan pasca-SMA. Banyaknya jurusan dan kampus membuat mereka membutuhkan informasi yang lengkap. Di sekolah, dengan latar pendidikan konselingnya, seorang guru bimbingan dan konseling (BK) dapat menjadi ujung tombak pemberi informasi siswa. Tidak hanya itu, guru-guru yang lain pun dapat membagi sarannya kepada siswa. Peran ini juga dapat dimainkan oleh guru-guru bimbel. Guru bimbel kebanyakan memiliki latar belakang heterogen dan tidak hanya berasal dari kampus dan jurusan keguruan. Mereka datang dari berbagai perguruan tinggi negeri (PTN) dan jurusan. Selain itu, mereka kebanyakan berasal dari alumni SMA-SMA unggulan dari daerah masing-masing. Seorang siswa kelas XII dapat bertanya tentang, misalnya, perkuliahan di jurusan Teknik Metalurgi UI karena guru bimbelnya kuliah atau alumni jurusan tersebut. Begitu pula dengan siswa kelas IX. Mereka dapat bertanya tentang, misalnya, lingkungan dan pembelajaran di suatu SMA unggulan karena guru bimbelnya adalah alumni sekolah tersebut dengan tahun kelulusan yang belum terlalu jauh dengan mereka sehingga kondisinya dapat lebih mudah dibandingkan.
Hubungan sinergis yang terakhir adalah bimbingan psikologis bagi siswa. Seorang siswa yang sedang mempunyai masalah nonakademis tentu harus segera menyelesaikannya. Jika dibiarkan berlarut-larut, hal itu dapat mengganggu siswa tersebut untuk mencapai prestasi tinggi. Peran ini sangat vital dijalankan oleh guru BK sebagai tempat curhat siswa. Selain itu, wali kelas juga harus mengambil peran ini karena dialah ibu atau bapak yang secara langsung bertanggung jawab terhadap seorang siswa di sekolah. Peran tempat curhat ini dapat dimainkan juga oleh guru bimbel. Faktor usia yang tidak terlalu jauh antara guru bimbel dan siswa dapat membuat komunikasi lebih lancar. Selain ajang curhat, siswa yang tidak mengalami masalah pun juga harus mendapat bimbingan psikologis melalui peningkatan motivasi belajar. Kata-kata motivasi atau acara-acara khusus peningkatan motivasi siswa dapat dirancang oleh bimbel bekerja sama dengan sekolah atau mengadakan sendiri.
Dari keempat hubungan sinergis tersebut, sekolah dan bimbel memiliki peran masing-masing yang dapat dimaksimalkan untuk menggali potensi akademik siswa. Sekolah, baik negeri maupun swasta sebagai institusi formal dan harus melalui akreditasi, tentu harus lebih maksimal menjalankan empat fungsi di atas. Lain halnya dengan bimbel, sebagai lembaga nonformal, tidak semua bimbel dapat menjalani peran di atas. Bimbel-bimbel yang tidak dapat menjalani peran di atas dengan sendirinya akan tegusur dalam percaturan dunia pendidikan. Jika keduanya telah menjalankan fungsi-fungsi itu dengan baik dan menjalani hubungan sinergis, siswa tidak akan merasa terbebani dengan banyaknya tuntutan yang ada dalam kurikulum karena segala sesuatunya telah dirancang dan disiapkan dengan baik. Dengan demikian, sekolah dan bimbel telah memberikan kontribusi positif bagi cita-cita pendidikan nasional.
sumber :
http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/12/menjalin-hubungan-sinergis-antara-sekolah-dan-bimbel-dalam-mencerdaskan-anak-bangsa/
Pola hubungan yang dapat dijalin antara keduanya dapat dilakukan pada berbagai hal. Yang pertama adalah pendalaman materi pelajaran. Dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah, guru mengajarkan konsep-konsep dasar, teori, serta latihan soal kepada siswa. Melalui latihan-latihan soal inilah, bimbel dapat berperan untuk mendalami kembali materi-materi yang diajarkan guru di sekolah. Bimbel harus mempunyai semacam bank soal. Dengan intensifnya latihan-latihan soal dari bimbel, siswa diharapkan dapat mengaplikasi apa yang diajarkan oleh guru di sekolah untuk menjawab pertanyaan yang diajukan dalam soal.
Hubungan sinergis yang kedua adalah konsultasi pelajaran. Siswa terkadang malu atau bahkan takut untuk bertanya lebih jauh dalam KBM di sekolah. Untuk mengatasi hal itu, siswa harus bertanya kepada gurunya di luar kelas. Pada diri sebagian siswa, kadang muncul kendala psikologis untuk bertanya lebih lanjut. Guru bimbel dapat mengisi peran konsultan pelajaran. Dengan penjelasan yang berbeda, tetapi tetap mengarah pada tujuan materi yang sama, siswa dapat lebih memahami materi yang didapatnya dari sekolah.
Selain proses pemahaman dan pendalaman materi, siswa juga harus diukur kemampuannya melalui kuis atau ulangan harian di sekolah. Hasil ulangan atau kuis itulah yang menjadi panduan guru sekolah untuk mengetahui kemajuan belajar siswa. Pengujian berkala ini dapat juga dilakukan oleh bimbel yang biasa dinamakan dengan try out. Siswa dapat membandingkan hasil try out di bimbel dengan nilai-nilai ujian di sekolah. Guru bimbel harus bisa menjelaskan dan menafsirkan hasil try out kepada siswa dengan baik sehingga siswa tidak terlampau jatuh mentalnya atau terlalu percaya diri dengan nilai yang didapat.
Siswa kelas IX dan XII tidak hanya membutuhkan materi pelajaran, tetapi juga informas-informasi yang berkaitan dengan pendidikan yang akan ditempuhnya setelah lulus. Siswa kelas 9 membutuhkan informasi tentang sekolah-sekolah yang akan ia tempuh nanti, apakah SMA atau SMK. Permasalahan siswa kelas 12 lebih kompleks lagi. Mereka dihadapkan pada banyak pilihan pendidikan pasca-SMA. Banyaknya jurusan dan kampus membuat mereka membutuhkan informasi yang lengkap. Di sekolah, dengan latar pendidikan konselingnya, seorang guru bimbingan dan konseling (BK) dapat menjadi ujung tombak pemberi informasi siswa. Tidak hanya itu, guru-guru yang lain pun dapat membagi sarannya kepada siswa. Peran ini juga dapat dimainkan oleh guru-guru bimbel. Guru bimbel kebanyakan memiliki latar belakang heterogen dan tidak hanya berasal dari kampus dan jurusan keguruan. Mereka datang dari berbagai perguruan tinggi negeri (PTN) dan jurusan. Selain itu, mereka kebanyakan berasal dari alumni SMA-SMA unggulan dari daerah masing-masing. Seorang siswa kelas XII dapat bertanya tentang, misalnya, perkuliahan di jurusan Teknik Metalurgi UI karena guru bimbelnya kuliah atau alumni jurusan tersebut. Begitu pula dengan siswa kelas IX. Mereka dapat bertanya tentang, misalnya, lingkungan dan pembelajaran di suatu SMA unggulan karena guru bimbelnya adalah alumni sekolah tersebut dengan tahun kelulusan yang belum terlalu jauh dengan mereka sehingga kondisinya dapat lebih mudah dibandingkan.
Hubungan sinergis yang terakhir adalah bimbingan psikologis bagi siswa. Seorang siswa yang sedang mempunyai masalah nonakademis tentu harus segera menyelesaikannya. Jika dibiarkan berlarut-larut, hal itu dapat mengganggu siswa tersebut untuk mencapai prestasi tinggi. Peran ini sangat vital dijalankan oleh guru BK sebagai tempat curhat siswa. Selain itu, wali kelas juga harus mengambil peran ini karena dialah ibu atau bapak yang secara langsung bertanggung jawab terhadap seorang siswa di sekolah. Peran tempat curhat ini dapat dimainkan juga oleh guru bimbel. Faktor usia yang tidak terlalu jauh antara guru bimbel dan siswa dapat membuat komunikasi lebih lancar. Selain ajang curhat, siswa yang tidak mengalami masalah pun juga harus mendapat bimbingan psikologis melalui peningkatan motivasi belajar. Kata-kata motivasi atau acara-acara khusus peningkatan motivasi siswa dapat dirancang oleh bimbel bekerja sama dengan sekolah atau mengadakan sendiri.
Dari keempat hubungan sinergis tersebut, sekolah dan bimbel memiliki peran masing-masing yang dapat dimaksimalkan untuk menggali potensi akademik siswa. Sekolah, baik negeri maupun swasta sebagai institusi formal dan harus melalui akreditasi, tentu harus lebih maksimal menjalankan empat fungsi di atas. Lain halnya dengan bimbel, sebagai lembaga nonformal, tidak semua bimbel dapat menjalani peran di atas. Bimbel-bimbel yang tidak dapat menjalani peran di atas dengan sendirinya akan tegusur dalam percaturan dunia pendidikan. Jika keduanya telah menjalankan fungsi-fungsi itu dengan baik dan menjalani hubungan sinergis, siswa tidak akan merasa terbebani dengan banyaknya tuntutan yang ada dalam kurikulum karena segala sesuatunya telah dirancang dan disiapkan dengan baik. Dengan demikian, sekolah dan bimbel telah memberikan kontribusi positif bagi cita-cita pendidikan nasional.
sumber :
http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/12/menjalin-hubungan-sinergis-antara-sekolah-dan-bimbel-dalam-mencerdaskan-anak-bangsa/
Sekolah Mesti Mendesain Sistem Belajar Mandiri
MEMANG menjadi sesuatu yang wajar pka anak didik setelah ujian nasional (UN) mendapat media pembelajaran lanjutan. Pasalnya, di masa kekosongan \ ang cukup panjang antara UN dan seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMF1 \). mm\,i cenderung melupakan materi pelajaran.
Bimbingan belajar (bimbel) pun akhirnya jadi incaran di masa kekosongan itu. Tak lain, tujuannya guna menambah latihan-latihan soal agar saat menghadapi SNMPTN tidak lagi grogi; dan \ ang paling utama agar his.) menembus salah satu perguruan tinggi negeri (PIN) favorit
Permasalahan \ ang ada -j.u ini banyak bimbel-bimbel \ ang memberi janji-janji ketulusan dengan jaminan uang kembali apabila anak tidak berhasil lu-lusSNMPl \ Hal itu tentunya bukan lagi menjadi ranah pendidikan yang bermanfaat bagi siswa.
"Janji-janji intelektual yang tidak mendidik itu, seperti jaminan uang kembali, justru membuat orang tua terpaksa menguras biaya. Hal ini yang harusnya mendapat perhatian para orang tua agar tidak terjebak papar pakar pendidikan dan Universitas Negeri |akarta it \H \net Rachman di |a-karta, Selasa (3/5).
Senada dengann) ,v koordinator koalisi Pendidikan Lody Paat. mengkritisi fungsi bimbel yang justru menjadi tempat mencari soal bocoran. Padahal, sejatinya bimbel itu untukmembantu murid belajar, sehingga paham atas mata pelajaran yang sulit dikuasai
Karena fungsi yang salah itulah, akhirnya banyak biaya besar keluar dari orang tua untuk biaya bimbel. Me-(m\ ,1 uang untuk bimbel itu bisa dialokasikan untuk kursus \ ang sifatnya keterampilan kat.i i od\
Pemerintah sendiri tak berkutik dengan kehadiran bimbel itu dan hal-hal yang sifatnya kursus keterampilan justru terabaikan Direktur Pembinaan kursus dan Pelatihan Kementerian Pendidikan \.i sional Wartanto mengakui. lakunya bimbel di era pra-SN-MPI\ tersobul adalah imbas dari masih tidak meratanyakualifikasi pengajar. Terutama, guru-guru mata pelajaran yang dipandang sulit oleh peserta didik seperti, matematika, tisika. bahasa inggris, dan kimia.
Anak tidak percaya diri, orang tua cemas, guru dan kepala sekolah pun khan .Hir Faktor-faktor itu. j ang saling mendukung fenomena menja-mumya bimbel ini." jelas-tu .1
Dengan segala keterbatasan infrastruktur dan sumber dayamanusia itulah, yang lantas membuat guru dan orang tua membiarkan kehadiran bimbel agar tetap memberi manfaat bagi anak.
Namun, jelas Wartanto hen dakm a orang tua juga memper-siapkan anaknya dengan keterampilan yang dapat diperoleh dari kursus keterampilan seperti, kursus bahasa asing, memasak, elektronik, kecantikan, dan lain-lain.
"Ini yang mesti diperhatikan juga oleh orang tua atau guru. Jadi tidak semata-mata mengejar target SNMPTN," ungkap Wartanto
Hal itu. kata Koordinator Penyusunan Soal SNMPTN Suparno, mestinya biso dilakukan jika sekolah mengutamakan belajar mandiri. Dengan kata lain, alokasi uang untuk bimbel menjelang SNMPTN bisa disisihkan untuk kursus keterampilan karena sekolah sendiri sudah matang mempersiapkan siswanya menghadapi SNMPTN.
Kematangan mempersiapkan diri oleh sekolah, jelas Suparno, memang perlu karena bisnis bimbel semakin menggiurkan akibat belum terbentuknya pola kedewasaan siswa dalam menghadapi ujian. Jika sekolah matang menyiapkan siswanya untuk SNMPTN, SNMPTN cuma dianggap proses pendidikan biasa.
"Jadi, dengan belajar mandiri yang dipersiapkan sekolah, orang tua tak perlu lagi merogoh kocek guna membiayai mahal-mahal anaknya ikut bimbel menjelang SNMPTN. Uang itu bis,) dialokasikan buat kursus keterampilan," kata Suparno.
Ketua Umum Federasi Guru Independen Indonesia (FG1U Suparman pun sama halnya dengan pendapat Suparno. Menurutnya, bimbel hanya memberikan target jangka pendek dan sisi pedagogis.sistem belajar sis,i secara mandiri tetap yang terbaik dan harus didesain sekolah. Adapun uang yang mestinya untuk bimbel bisa dialokasikan untuk inemberi keterampilan tambahan bagi sisu a." tandas Suparman. CH-2)
sumber
http://bataviase.co.id/node/664675
Bimbingan belajar (bimbel) pun akhirnya jadi incaran di masa kekosongan itu. Tak lain, tujuannya guna menambah latihan-latihan soal agar saat menghadapi SNMPTN tidak lagi grogi; dan \ ang paling utama agar his.) menembus salah satu perguruan tinggi negeri (PIN) favorit
Permasalahan \ ang ada -j.u ini banyak bimbel-bimbel \ ang memberi janji-janji ketulusan dengan jaminan uang kembali apabila anak tidak berhasil lu-lusSNMPl \ Hal itu tentunya bukan lagi menjadi ranah pendidikan yang bermanfaat bagi siswa.
"Janji-janji intelektual yang tidak mendidik itu, seperti jaminan uang kembali, justru membuat orang tua terpaksa menguras biaya. Hal ini yang harusnya mendapat perhatian para orang tua agar tidak terjebak papar pakar pendidikan dan Universitas Negeri |akarta it \H \net Rachman di |a-karta, Selasa (3/5).
Senada dengann) ,v koordinator koalisi Pendidikan Lody Paat. mengkritisi fungsi bimbel yang justru menjadi tempat mencari soal bocoran. Padahal, sejatinya bimbel itu untukmembantu murid belajar, sehingga paham atas mata pelajaran yang sulit dikuasai
Karena fungsi yang salah itulah, akhirnya banyak biaya besar keluar dari orang tua untuk biaya bimbel. Me-(m\ ,1 uang untuk bimbel itu bisa dialokasikan untuk kursus \ ang sifatnya keterampilan kat.i i od\
Pemerintah sendiri tak berkutik dengan kehadiran bimbel itu dan hal-hal yang sifatnya kursus keterampilan justru terabaikan Direktur Pembinaan kursus dan Pelatihan Kementerian Pendidikan \.i sional Wartanto mengakui. lakunya bimbel di era pra-SN-MPI\ tersobul adalah imbas dari masih tidak meratanyakualifikasi pengajar. Terutama, guru-guru mata pelajaran yang dipandang sulit oleh peserta didik seperti, matematika, tisika. bahasa inggris, dan kimia.
Anak tidak percaya diri, orang tua cemas, guru dan kepala sekolah pun khan .Hir Faktor-faktor itu. j ang saling mendukung fenomena menja-mumya bimbel ini." jelas-tu .1
Dengan segala keterbatasan infrastruktur dan sumber dayamanusia itulah, yang lantas membuat guru dan orang tua membiarkan kehadiran bimbel agar tetap memberi manfaat bagi anak.
Namun, jelas Wartanto hen dakm a orang tua juga memper-siapkan anaknya dengan keterampilan yang dapat diperoleh dari kursus keterampilan seperti, kursus bahasa asing, memasak, elektronik, kecantikan, dan lain-lain.
"Ini yang mesti diperhatikan juga oleh orang tua atau guru. Jadi tidak semata-mata mengejar target SNMPTN," ungkap Wartanto
Hal itu. kata Koordinator Penyusunan Soal SNMPTN Suparno, mestinya biso dilakukan jika sekolah mengutamakan belajar mandiri. Dengan kata lain, alokasi uang untuk bimbel menjelang SNMPTN bisa disisihkan untuk kursus keterampilan karena sekolah sendiri sudah matang mempersiapkan siswanya menghadapi SNMPTN.
Kematangan mempersiapkan diri oleh sekolah, jelas Suparno, memang perlu karena bisnis bimbel semakin menggiurkan akibat belum terbentuknya pola kedewasaan siswa dalam menghadapi ujian. Jika sekolah matang menyiapkan siswanya untuk SNMPTN, SNMPTN cuma dianggap proses pendidikan biasa.
"Jadi, dengan belajar mandiri yang dipersiapkan sekolah, orang tua tak perlu lagi merogoh kocek guna membiayai mahal-mahal anaknya ikut bimbel menjelang SNMPTN. Uang itu bis,) dialokasikan buat kursus keterampilan," kata Suparno.
Ketua Umum Federasi Guru Independen Indonesia (FG1U Suparman pun sama halnya dengan pendapat Suparno. Menurutnya, bimbel hanya memberikan target jangka pendek dan sisi pedagogis.sistem belajar sis,i secara mandiri tetap yang terbaik dan harus didesain sekolah. Adapun uang yang mestinya untuk bimbel bisa dialokasikan untuk inemberi keterampilan tambahan bagi sisu a." tandas Suparman. CH-2)
sumber
http://bataviase.co.id/node/664675
Pengertian, Tujuan dan Fungsi Bimbingan Belajar
Pengertian, Tujuan dan Fungsi Bimbingan Belajar
A. Pengertian Bimbingan
Pengertian-pengertian mengenai bimbingan dan konseling telah dirumuskan beberapa ahli, pengertian yang dikemukakan oleh para ahli tersebut berbeda antara satu dengan yang lain, secara umum bimbingan dapat diartikan sebagai suatu bantuan yang diberikan kepada orang lain yang bermasalah, dengan harapan orang tersebut dapat menerima keadaannya sehingga dapat mengatasi masalahnya dan mengadakan penyesuaian terhadap diri pribadi, lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat, untuk lebih jelasnya perhatikan uraian mengenai bimbingan dari beberapa ahli yang lebih mengarah kepada pelaksanaan bimbingan belajar di sekolah.
”Bimbingan adalah proses bantuan terhadap individu mendapat pemehaman dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum kepada sekolah, keluarga serta masyarakat”.
”Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan”.
Dari kedua definisi yang dikemukakan dapat disimpulkan mengenai pengertian bimbingan sebagai berikut :
Bimbingan adalah proses bantuan yang diberikan kepada individu yang membutuhkannya, bantuan yang diberikan tidak adanya unsur paksaan serta diberikan secara berencana dan sistematis.
Bimbingan diberikan kepada individu dengan maksud agar ia dapat memahami dirinya, kemudian mengarahkan dirinya sehingga tercapai kebahagiaan hidup pribadi.
B. Tujuan Bimbingan Belajar
Kegiatan bimbingan di sekolah merupakan bagian integral dari keseluruhan program kegiatan sekolah, terutama pada bimbingan belajar sehingga dapat diartikan bahwa tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah merupakan tujuan yang ingin dicapai bimbingan. Yang membedakan diantara keduanya ialah jenis kegiatannya, pendidikan terletak pada proses belajar mengajar yang penekanannya pada usaha-usaha kognitif,afektif dan psikomorik, sedangkan bimbingan terletak pada membina siswa dalam perkembangan pribadi, sosial psikologi, yang didasarkan pada kenyataan yang dihadapi siswa sehingga memerlukan bantuan tenaga profesional kependidikan dalam hal ini adalah guru pembimbing.
Proses belajar dapat diamati secara tidak langsung, artinya proses belajar yang merupakan proses internal siswa tidak dapat diamati, tetapi dapat dipahami oleh guru.
Program-progran pendidikan di sekolah termasuk program layanan bimbingan dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran sehingga proses pendidikan di sekolah akan lebih bermakna sesuai dengan kebutuhan anak didik dan kebutuhan masyarakat serta pembangunan.
Dengan perkataan lain, melalui kegiatan bimbingan di sekolah siswa mampu mengembangkan potensi dalam dirinya. Potensi lingkungannya, sehingga ia merencanakan masa depannya serta melanjutkan pendidikan kepada jenjang yang lebih tinngi. Dalam rangka menjawab tantangan masa depan yang lebih komfektif dan komplek, tenaga-tenaga profesional kependidikan mampu memberikan pelayanan yang terbaik pula bagi perkembangan anak didik sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, yaitu : ”Terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan kemampuan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.
C. Fungsi Bimbingan Belajar
Belajar adalah merupakan kegiatan fisik dan psikis yang tertinggi dalam kehidupan manusia, sebagai hasil kegiatan belajar dapat membawa pada perubahan dan peningkatan pandangan sikap dan tingkah laku yang baru dari hasil latihan belajar tersebut.
Proses belajar yang terjadi di sekolah harus senantiasa mempunyai tujuan yang jelas dan terarah sebagai pedoman dan panutan dalam aktivitas belajar sebagai seorang siswa, dalam tujuan tersebut pada dasarnya menyangkut penguasaan bidang pengetahuan pembinaan sikap dan pengembangan keterampilan yang merupakan cita-cita sekolah yang diselenggarakan lewat pendidikan dan pengajaran.
Menurut Dewa Ketut Sukardi ada dua faktor yang timbul dalam kesulitan belajar, yaitu :
a. Faktor endogen, ialah faktor yang datang dari anak itu sendiri, hal ini dapat bersifat :
Biologis, ialah hambatan yang bersifat kejasmanian.
Fisikologis, ialah hambatan yang bersifat kejiwaan.
b. Faktor eksogen, ialah hambatan yang dapat timbul dari luar diri anak, faktor ini meliputi :
Faktor lingkungan keluarga.
Faktor lingkungan sekolah.
Faktor lingkungan masyarakat.
Kehadiran bimbingan dalam proses pendidikan dan pengajaran yang dilaksanakan, secara keseluruhan dapat berfungsi membantu dan menunjang usaha-usaha kearah kemajuan, kesejahteraan dan tercapainya tujuan pendidikan bagi sekolah maupun bagi anak didik terutama dalam proses belajar mengajar didalam pendidikan dan pengajaran yang dijalankan.
Fungsi utama bimbingan yang didukung oleh layanan pembelajaran ialah fungsi pemeliharaan yang pengembangan yang akan menghasilkan terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif anak didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan.
Menurut Prayetno dalam bukunya ”Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah” mengemukakan ada lima fungsi pokok pelayanan bimbingan yaitu :
a. Pengenalan diri
Upaya utama didalam bimbingan dalam rangka menemukan dan memberikan pemahaman terhadap potensi dan kemampuan bakat dan minat, kebutuhan-kebutuhan, sifat-sifat kepribadian, permasalahan dan kesulitan-kesulitan para siswa sesuai dengan fakta, data dan impormasi dirinya sehingga ia dapat menggali dirinya secara utuh dan menyeluruh agar dapat disalurkan dengan sewajarnya.
b. Pencegahan masalah
Di dalam bimbingan terhadap upaya provinsip (pencegahan) dan kuratip (penyuluhan) terhadap segala permasalahan, baik yang belum terjadi maupun yang sedang mengalami kesulitan didalam memecahkannya, kemudian berupaya meluruskan agar para siswa dapat berbuat dan bertindak tanpa adanya ketergantungan kepada orang lain.
c. Kesejahteraan sekolah
Bimbingan dapat mengefektifkan segala tujuan yang ingin dicapai di sekolah, disamping membantu petugas-petugas sekolah terutama Kepala Sekolah dan guru-guru di dalam rangka menciptakan situasi dan kondisi atau iklim sekolah yang harmonis, sehat dan dinamis bagi keberhasilan pendidikan dan pengajaran.
--------------------------------------------
DAFTAR PUSTAKA
PENGERTIAN, TUJUAN DAN FUNGSI BIMBINGAN BELAJAR
Djumhur dan Moh. Surya, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, CV. Ilmu Bandung. 1975.
Prof. Dr. Prayetno, M.sc. Ed, dkk. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, _____________1997
A. Pengertian Bimbingan
Pengertian-pengertian mengenai bimbingan dan konseling telah dirumuskan beberapa ahli, pengertian yang dikemukakan oleh para ahli tersebut berbeda antara satu dengan yang lain, secara umum bimbingan dapat diartikan sebagai suatu bantuan yang diberikan kepada orang lain yang bermasalah, dengan harapan orang tersebut dapat menerima keadaannya sehingga dapat mengatasi masalahnya dan mengadakan penyesuaian terhadap diri pribadi, lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat, untuk lebih jelasnya perhatikan uraian mengenai bimbingan dari beberapa ahli yang lebih mengarah kepada pelaksanaan bimbingan belajar di sekolah.
”Bimbingan adalah proses bantuan terhadap individu mendapat pemehaman dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum kepada sekolah, keluarga serta masyarakat”.
”Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan”.
Dari kedua definisi yang dikemukakan dapat disimpulkan mengenai pengertian bimbingan sebagai berikut :
Bimbingan adalah proses bantuan yang diberikan kepada individu yang membutuhkannya, bantuan yang diberikan tidak adanya unsur paksaan serta diberikan secara berencana dan sistematis.
Bimbingan diberikan kepada individu dengan maksud agar ia dapat memahami dirinya, kemudian mengarahkan dirinya sehingga tercapai kebahagiaan hidup pribadi.
B. Tujuan Bimbingan Belajar
Kegiatan bimbingan di sekolah merupakan bagian integral dari keseluruhan program kegiatan sekolah, terutama pada bimbingan belajar sehingga dapat diartikan bahwa tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah merupakan tujuan yang ingin dicapai bimbingan. Yang membedakan diantara keduanya ialah jenis kegiatannya, pendidikan terletak pada proses belajar mengajar yang penekanannya pada usaha-usaha kognitif,afektif dan psikomorik, sedangkan bimbingan terletak pada membina siswa dalam perkembangan pribadi, sosial psikologi, yang didasarkan pada kenyataan yang dihadapi siswa sehingga memerlukan bantuan tenaga profesional kependidikan dalam hal ini adalah guru pembimbing.
Proses belajar dapat diamati secara tidak langsung, artinya proses belajar yang merupakan proses internal siswa tidak dapat diamati, tetapi dapat dipahami oleh guru.
Program-progran pendidikan di sekolah termasuk program layanan bimbingan dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran sehingga proses pendidikan di sekolah akan lebih bermakna sesuai dengan kebutuhan anak didik dan kebutuhan masyarakat serta pembangunan.
Dengan perkataan lain, melalui kegiatan bimbingan di sekolah siswa mampu mengembangkan potensi dalam dirinya. Potensi lingkungannya, sehingga ia merencanakan masa depannya serta melanjutkan pendidikan kepada jenjang yang lebih tinngi. Dalam rangka menjawab tantangan masa depan yang lebih komfektif dan komplek, tenaga-tenaga profesional kependidikan mampu memberikan pelayanan yang terbaik pula bagi perkembangan anak didik sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, yaitu : ”Terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan kemampuan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.
C. Fungsi Bimbingan Belajar
Belajar adalah merupakan kegiatan fisik dan psikis yang tertinggi dalam kehidupan manusia, sebagai hasil kegiatan belajar dapat membawa pada perubahan dan peningkatan pandangan sikap dan tingkah laku yang baru dari hasil latihan belajar tersebut.
Proses belajar yang terjadi di sekolah harus senantiasa mempunyai tujuan yang jelas dan terarah sebagai pedoman dan panutan dalam aktivitas belajar sebagai seorang siswa, dalam tujuan tersebut pada dasarnya menyangkut penguasaan bidang pengetahuan pembinaan sikap dan pengembangan keterampilan yang merupakan cita-cita sekolah yang diselenggarakan lewat pendidikan dan pengajaran.
Menurut Dewa Ketut Sukardi ada dua faktor yang timbul dalam kesulitan belajar, yaitu :
a. Faktor endogen, ialah faktor yang datang dari anak itu sendiri, hal ini dapat bersifat :
Biologis, ialah hambatan yang bersifat kejasmanian.
Fisikologis, ialah hambatan yang bersifat kejiwaan.
b. Faktor eksogen, ialah hambatan yang dapat timbul dari luar diri anak, faktor ini meliputi :
Faktor lingkungan keluarga.
Faktor lingkungan sekolah.
Faktor lingkungan masyarakat.
Kehadiran bimbingan dalam proses pendidikan dan pengajaran yang dilaksanakan, secara keseluruhan dapat berfungsi membantu dan menunjang usaha-usaha kearah kemajuan, kesejahteraan dan tercapainya tujuan pendidikan bagi sekolah maupun bagi anak didik terutama dalam proses belajar mengajar didalam pendidikan dan pengajaran yang dijalankan.
Fungsi utama bimbingan yang didukung oleh layanan pembelajaran ialah fungsi pemeliharaan yang pengembangan yang akan menghasilkan terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif anak didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan.
Menurut Prayetno dalam bukunya ”Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah” mengemukakan ada lima fungsi pokok pelayanan bimbingan yaitu :
a. Pengenalan diri
Upaya utama didalam bimbingan dalam rangka menemukan dan memberikan pemahaman terhadap potensi dan kemampuan bakat dan minat, kebutuhan-kebutuhan, sifat-sifat kepribadian, permasalahan dan kesulitan-kesulitan para siswa sesuai dengan fakta, data dan impormasi dirinya sehingga ia dapat menggali dirinya secara utuh dan menyeluruh agar dapat disalurkan dengan sewajarnya.
b. Pencegahan masalah
Di dalam bimbingan terhadap upaya provinsip (pencegahan) dan kuratip (penyuluhan) terhadap segala permasalahan, baik yang belum terjadi maupun yang sedang mengalami kesulitan didalam memecahkannya, kemudian berupaya meluruskan agar para siswa dapat berbuat dan bertindak tanpa adanya ketergantungan kepada orang lain.
c. Kesejahteraan sekolah
Bimbingan dapat mengefektifkan segala tujuan yang ingin dicapai di sekolah, disamping membantu petugas-petugas sekolah terutama Kepala Sekolah dan guru-guru di dalam rangka menciptakan situasi dan kondisi atau iklim sekolah yang harmonis, sehat dan dinamis bagi keberhasilan pendidikan dan pengajaran.
--------------------------------------------
DAFTAR PUSTAKA
PENGERTIAN, TUJUAN DAN FUNGSI BIMBINGAN BELAJAR
Djumhur dan Moh. Surya, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, CV. Ilmu Bandung. 1975.
Prof. Dr. Prayetno, M.sc. Ed, dkk. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, _____________1997
Langganan:
Postingan (Atom)